Muhammad Ilham Rizqyawan

Dampak Buruk Teknologi

September ini saya ikut kelas conversation, tujuannya sih biar biasa ngobrol percakapan B. Inggris (ps: pada prakteknya ternyata lebih dari itu, salah-satunya kita dilatih...

Dampak Buruk Teknologi

September ini saya ikut kelas conversation, tujuannya sih biar biasa ngobrol percakapan B. Inggris (ps: pada prakteknya ternyata lebih dari itu, salah-satunya kita dilatih berpikir dalam B. Inggris juga). Nah, dua hari yang lalu kami membahas suatu tulisan soal dampak buruk teknologi untuk anak-anak.

Isi tulisannya dimulai dengan temuan kemampuan anak dalam menulis (dan bahkan memegang pensil) yang sangat menurun dibanding 10 tahun yang lalu. Dan katanya kalo anak nggak kuat megang pensil, bisa jadi itu tanda seluruh badannya juga lemah. Pada akhir tulisan peneliti tersebut menyarankan agar anak bermain di luar yang melibatkan fisik dibanding nonton Youtube di iPad. Setelah selesai membaca, kami kemudian membahas apa saja kira-kira good effects dan bad effects yang ditimbulkan teknologi dari berbagai sisi.

Pada perjalanan pulang, di kereta, saya jadi lanjut kepikiran soal bahasan itu. Pas kemaren mah dibahasnya kan dari dua sisi, dampak baik dan buruk, so I think itโ€™s fair enough. Tapi biasanya nih di luar sana, kalo bahas soal dampak teknologi, kebanyakan yang dibahas dampak buruknya. Jadi kadang saya sebagai orang yang memang di bidang teknologi, agak merasa gimana gitu. Kesannya kadang teknologinya yang disalahkan. Kalo diibaratkan mungkin mirip pandai besi, bikin pisau, pisaunya dipake nodong orang. Atau peneliti farmasi bikin obat untuk penyakit tertentu, obatnya dipake mabok ๐Ÿ˜ข.

But Iโ€™m not here to play the victim. Saya cuman nulis sebagai backstory-nya :p Yang paling penting sekarang adalah bagaimana cara kita meminimalisir dampak buruk itu. Yang menjadi masalah adalah, kita nggak bisa menyerahkan penyelesaian masalah tadi cuman ke orang teknologi aja. Tau sendiri anak teknik gimana ๐Ÿ˜‚ Berarti kita butuh dari bidang lain: sosial, psikologi, pendidikan.

Dari sisi bisnis juga harus diperhatikan. Misal nih kita founder di startup yang mengembangkan suatu aplikasi sosial media. Kita pengennya aplikasi kita terus dipake orang dong, active user-nya banyak, user engagement-nya bagus. Jadi kita bikin nih KPI di perusahaan u/ peningkatan lama pemakaian aplikasi rata-rata oleh user. Akhirnya akhir tahun, setelah dievaluasi, terjadi peningkatan pesat pada KPI tersebut. Tapi yang nggak disadari user jadi kecanduan menggunakan aplikasi ini. Padahal niat awal kita nggak sampe gitu.

Contoh tadi mungkin contoh yang agak ekstrim, tapi point-nya adalah perlu juga dipikirkan gimana caranya tujuan bisnis yang tetap bertanggung jawab secara moral. Sampe di sini aja keliatan kan masalahnya inter-disiplin banget? Saya yakin sih sebenernya ada grup, entah lab, research group, atau malah sudah ada sub-keilmuan yang membahas tentang ini. Cuman kurang terekspos aja (atau sayanya aja yang nggak tau). Jadi saya pikir idealnya nanti orang-orang teknologi fokus dalam pengembangan teknologi, dan dari grup tadi memberikan guideline bagaimana agar efek buruk tadi diminimalisir pada teknologi yang dikembangkan.

Pada akhirnya, ini cuman pendapat saya yang kepikiran pas ngelamun di kereta, malem-malem, sendirian. :p Terima kasih sudah membaca :D